TKW jadi bini BULE

Sambungan dari, TKW jadi bini BULE (bagian 1)

link di bawah ini :

https://istribulebagus.wordpress.com/2016/02/11/tkw-jadi-bini-bule/

by : Ima Van Dam

Singapura, 21 desember 2000

Pada tanggal 21 desember tahun 2000, pertama kalinya aku merantau jauh ke negeri seberang. Pertama kalinya aku meninggalkan keluargaku tercinta, tanah air tercinta Indonesia Raya, demi membantu keluargaku. Jam 2 siang waktu setempat aku sampai di Cangi singapura airport, di sana sudah di tunggu oleh agency GH (inisial) namaku di panggil dan berkas-berkasku di check.

“are you speaking english?” Mr. ang bertanya padaku.

“yes sir, a little bit” jawabku.

“how little you tell me?”

“well as little as a daily conversation sir”.

“oke, your name is…(sambil mengejah namaku yg panjang) Siti Nur Rohima correct?”

“yes sir”.

“born on 6 of jun 1982?” (sambil menatapku tak percaya).

“correct sir”.

“no way ! it can’t be, you look just like 16 to me, do not tell a lie you know?!”

“i am not sir, it’s my real age i am 18 years old”

“alrite you seem so sure, fine then let’s go”

Aku ngekor aja di belakangnya, neh agent baik banget tasku di bawain pula. Tapi jujur dalam hati aku deg-deg-an banget takut di bawa kemana gituh…(takut di jual /human traficking gituh) tapi aku tak berani bertanya kemana dia akan membawaku. Akhirnya sampailah di suatu tempat (flat) di sana sudah banyak TKW lainnya, Mr. Ang bilang untuk sementara aku tinggal di sini istirahat semalam dan besoknya akan di bawa medical check-up kemudia baru dia akan menjemputku untuk di bawa ke GH Office & Training centre. Di tempat ini kami para tkw di suguhi makanan (roti dan minuman) untuk makan malam kami dan kami pun tidur di lantai. Keesokannya setelah proses medical selesai, Mr.Ang datang menjemputku dan kami pun menuju GH office & training centre.

“are you afraid?”

sambil tersenyum aku menjawab, “yes sir, a little”

Mr.Ang menepuk-nepuk bahuku sambil berkata, “don’t be, i am here your agency and i always around to look after you untill you go back to your country !”

aku hanya mengangguk aja.

“alrite may i call you Siti?”

“yes sir”

“oke Siti, onething that you have to remember…Do not tell a lie ! be honest and be outomatic do what you have to do as a house keeping, understand?”

“yes sir”

“your bos is very wealthy, the madam from Amerika and the boss chinesse singapore”

“oke sir”

Kemudian mobil menuju ke satu tempat dan berhenti, aku lihat di pintunya tertulis “G H Training Centre” dan dari jendela kaca aku melihat ada 8 orang sedang di training, (ada yg mempraktekkan cara memandikan bayi, ada yg memasak, ada yg menyetrika, ada yg mendorong kursi roda. Kuperhatikan mereka semua tersenyum padaku, dan akupun membalas senyuman mereka.

“Siti, come here…come in”

tanpa menjawab aku mengikuti Mr.Ang masuk ke office, di sana ada 4 orang dg papan nama masing-masing di meja mereka, Mr.Douglass, Mr.David, Mr.Ang, Ms.caroline. Aku masuk dan menyapa mereka dg sopan,

“halo sir, halo ma’am, good afternoon” sapaku sambil tersenyum optimis.

“hi Siti, welcome to G H ” jawab mereka bersamaan dg senyum yg ramah.

“Fitri, come help siti with her bag and check all her thing” Mr.Ang berkata pada penerjemahnya yg kebetulan orang indonesia juga.

aku dibawa ke lantai atas (sepertinya ini tempat kami tidur selama menjalani training dan menunggu majikan menjemput) “Siti maaf ya aku harus memeriksa semua bawaan kamu” kata kak Fitri. “oh ea kak silahkan” jawabku dg tersenyum. Setelah selesai kak fitri bilang majikanku lagi liburan ke Jepang dan akan menjemputku pada tgl 24 desember, jadi selama beberapa hari aku akan di training. Di G H kami dapat pelayanan yg baik dari pihak agency, kami di kasih makanan dg lauknya, di kasih sarapan roti dan susu, pokoknya di Agency ini kami benar-benar diperhatikan dan sirnalah semua ke was-was-anku selama ini.

24 desember, 2000

Majikan datang menjemputku, setelah mengurus semua beres aku di boyong ke kediaman mereka (Mr.Nelson dan Mdm.jennifer) mereka tinggal di bungalow yg sangat besar, rumah besar tingkat 4, halaman yg cukup luas (ada 3 mobil parkir di halaman ini), kebun yg penuh dg tanaman buah mini dan aneka bunga. Aku terkagum-kagum melihat betapa indahnya kediaman majikanku ini.

“Siti, come in and let me introduce you to my son” kata Mdm.jenny.

“Ryan, she is Siti”

“halo siti” kata Ryan anak majikanku.

“halo” jawabku.

“Siti he is 16 years old, so you don’t need do anything for him,he know what he have to do, like wake up in the morning go school etc, you dont have to wake him up, he is very good boy” kata Mdm.jenny.

“all you need to do is to keep the house clean, oke?”

“oke ma’am”

“oh yea, do not call me ma’am, just call me by my name Jenny” kata Mdm.Jenny.

“oh really? is that oke?” tanyaku

“of course, why not? call us by a name oke…i take you as a part of this family, no different!” kata Jenny.

aku hanya terbengong karena haru dg perlakuan mereka.

“allrite Siti let me take you to your room in the top flour”

hah?! lantai paling atas? (dalam anganku berkata)

tanpa protes akupun mengikuti Jenny, dan akhirnya sampai di lantai atas, dg ranjang yg bagus, meja tulis dan kursi, lemari dan TV pula.

“Siti here your room, this table for you maybe you need to write letter to your parent, and you can watch Tv when you done with your work, and u can put your all belonging in this wardrobe”

“Thank you ma’am…ums…Jenny, this room very very very nice!” kataku.

“Jenny tersenyum dan berkata, Oke, good you like it.well attend your belonging and when you finish come down i will be waiting in 1st flour oke! take your time”

“oke, thank you Jenny, you so kind!” kataku lagi.

Jenny tersenyum dan meninggalkanku di kamarku sendiri yg masih terkagum-kagum dg kamarku ini, di kampung di rumahku gak ada TV pokoknya neh kamar bagus sekali…aku coba merebahkan badan di kasur dan…toeng-toeng…kasur springbed empuk! Belum pernah aku merasakan kasur seempuk ini, aku tata baju-bajuku di lemari sambil berkali-kali aku berucap syukur kepada Allah yg telah memberiku Majikan sebaik ini!

bersambung…

 

TKW jadi bini BULE

TKW jadi bini BULE : (bagian 1)

by : Ima Van Dam

   Namaku Siti, aku berasal dari kota M jawa timur, aku 3 bersaudara dan aku anak pertama atau tertua. Saat aku umur 16th aku terpaksa putus sekolah (waktu itu aku kelas 1 SMU) beberapa bulan sebelum kenaikan kelas ke kelas 2, ayahku sakit…parah. Aku tak tega melihat ayah terbaring lemas tak berdaya…tiap kali aku menatap ayah dari depan pintu kamar, aku selalu meneteskan air mata. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, yg intinya ayahku satu-satunya sumber penghasilan dlm keluarga. Dengan keadaan ayah yg sakit parah, tentu ayah tak bisa bekerja (ayah pedagang aksesoris “kaca mata, ikat pinggang,topi dll” ) yg mengejar pasar, jadi gak netap di satu tempat. Tanpa penghasilan dari ayah, ibu berusaha keras cari pinjaman sana sini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Walhasil hutang numpuk, beberapa kali kami kedatangan tamu yg menagih hutang. Sementara ayah tak bisa bekerja, ibu sibuk dg pekerjaan rumah dan mengurus 2 adikku dan aku…mulai berfikir untuk tidak meneruskan sekolah dan nyari kerja, entah kerja apa yg penting halal dan bisa membantu keluarga. Aku mengungkapkan keinginanku untuk bekerja pada ibu, ibu bilang entahlah terserah kamu, kamu kan udah gede. Akhirnya aku dapat kerja jaga butik punya orang cina, waktu itu tahun 1998 gajiku jaga butik 7 jam kerja, dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore, RP.6000/hari. Dari gajiku ini tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami apalagi ayah sakit, kami tidak mampu bawa ayah berobat ke dokter, ibu hanya bikin jamu buat ayah setiap hari dan kami makan ala kadarnya. Sedih sangat sedih, ayah sakit, aku putus sekolah dan paling menyedihkan adalah melihat kedua adikku terancam putus sekolah. Selang 8 bulan ayah mulai membaik dan bisa kerja lagi namun aku tetap tidak meneruskan sekolahku krn aku pikir dg keadaan ayah yg masih lemah tidak mungkin ayah bisa kerja seharian dari pasar ke pasar, aku tak mau ayah sakit lagi. Jadi dg aku juga kerja di butik paling nggak aku bisa membantu ayah untuk membiayai adik2 sekolah walau belum cukup untuk bayar hutang. Hampir setiap hari ada tamu datang untuk menagih hutang sejak ayah kembali bekerja, namun hasil kerja ayah plus gajiku jaga butik sungguh hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan bayar sekolah adik-adik.

   Selang beberapa tahun berlalu sejak ayah sakit-sakitan dan kami di lilit hutang, pada waktu itu tahun 2000, aku mendapat kabar bahwa ada lowongan kerja jadi TKW ke singapura. Aku langsung berfikir bagaimana kalau aku mendaftarkan diri jd TKW ke singapura…(dlm pikiranku yg penting bukan ke Saudi arabia) gak tau deh pokoknya denger-denger cerita para tkw di saudi menyeramkan, tapi singapura…hmmm aku jadi berhayal seperti apa singapura yg mayoritas mereka berbahasa inggris dan mandarin. Aku berhayal dan berhayal…hmm dg bekerja ke singapura aku pasti bisa bayar hutang keluargaku selama ini, plus aku bisa belajar bahasa inggris dan siapa tau mandarin juga dari percakapan sehari-hari dg majikan gitu?, duh indah nian angan-angan ini. Sepulangnya dari butik, aku bantu-bantu ibu nyiapin makan malam. Ba’da magrib aku pijitin ayah dan aku pelan-pelan menyampaikan keinginanku untuk bekerja jadi TKW di Singapura. ” yah, aku dengar kabar ada lowongan kerja di singapura, ya jadi pembantu rumah tangga atau babysitter gtu, gajinya lumayan loh yah Rp.1,2 juta kan enak yah ntar aku bisa bayarin utang trus sekolahin adik-adik sampe mereka kuliah trus ayah gak usah kerja dah gajiku nanti pasti cukup yah” cerocosku penuh semangat. ” Kamu serius? 100% yakin dan siap dg segala resikonya ndok? ” (ndok=panggilan anak perempuan dlm bhs jawa) . “emms, aku serius banget yah ! 200% malah ” kataku. ” seumpama nanti pas kamu udah di singapura trus ayah meninggal atau apalah hal-hal yg menyedihkan terjadi apa kamu bisa kuat ndok?, kerja merantau itu berat ndok apalagi pertama kalinya tak semudah yg kau bayangkan ndok.”  dengan cepat aku menjawab ” aku siap yah dg apapun resikonya yg penting aku bisa bantuin ayah, ibu dan adik-adik.”

   Bulan juli tahun 2000, aku datang ke satu PJTKI di Tangerang di antar ayah dan ibu. setelah interview dan pengurusan dokumen-dokumen aku diterima di PJTKI tersebut, Bpk.alam yg menerimaku di PJTKI itu selaku manager sekaligus berperan sebagai sponsorku. Bpk.alam beliau sangat baik, ramah, murah senyum, pokoknya segala ketakutan yg tadinya ada di benakku sirna setelah bertemu dg Bpk.alam. Singkat kata saatnya berpisah dg ayah dan ibu, krn aku harus tinggal di asrama PJTKI untuk mendapatkan training sebelum berangkat ke singapura. Adapun trainingnya bermacam-macam, mulai dari belajar bahasa inggris, memasak, mengepel,menggunakan peralatan elektronik seperti vacuum cleaner, coffee maker, microwave, setrika listrik, oven listrik dan mesin cuci dan juga cara merawat bayi dan anak-anak, pokoknya trainingnya komplit.

   Satu bulan, dua bulan belum juga dapat job order, selama di asrama aku rajin mengikuti training, aku selalu patuh peraturan asrama, aku berteman baik dg para calon tkw lainnya. Tiap sepertiga malam aku selalu bangun untuk menunaikan shalat malam, aku berdoa memohon kesehatan bagi kedua orang tuaku, aku memohon kebaikan untuk dua adikku, aku memohon agar segera dapat majikan, aku tak peduli majikanku beragama apa aja yg penting mereka baik padaku, yg penting mereka sabar padaku segede apapun rumah mereka aku mau bekerja keras, Yah itu lantunan doaku tiap malam. Bpk.alam sangat baik dan perhatian, setiap hari minggu beliau memanggilku ke kantornya, aku di berikan makanan, jajanan dan uang saku.

    Awal desember tahun 2000, aku mendapatkan job order sebagai pembantu rumah tangga di Bungalow yg cukup besar, rumah bungalow tingkat 3 dan 1 ruang basement dg kebun yg cukup luas, dg 3 anggota keluarga papa, mama dan 1 anak laki-laki umur 16th. Akhirnya setelah melalui proses yg cukup panjang tibalah saatnya aku terbang ke Singapura. 21 desember 2000, tibalah aku di negeri singa dan pertama kalinya aku meninggalkan negeri tercintaku tanah air Indonesia.

bersambung…