TKW jadi bini BULE

TKW jadi bini BULE : (bagian 1)

by : Ima Van Dam

   Namaku Siti, aku berasal dari kota M jawa timur, aku 3 bersaudara dan aku anak pertama atau tertua. Saat aku umur 16th aku terpaksa putus sekolah (waktu itu aku kelas 1 SMU) beberapa bulan sebelum kenaikan kelas ke kelas 2, ayahku sakit…parah. Aku tak tega melihat ayah terbaring lemas tak berdaya…tiap kali aku menatap ayah dari depan pintu kamar, aku selalu meneteskan air mata. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, yg intinya ayahku satu-satunya sumber penghasilan dlm keluarga. Dengan keadaan ayah yg sakit parah, tentu ayah tak bisa bekerja (ayah pedagang aksesoris “kaca mata, ikat pinggang,topi dll” ) yg mengejar pasar, jadi gak netap di satu tempat. Tanpa penghasilan dari ayah, ibu berusaha keras cari pinjaman sana sini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Walhasil hutang numpuk, beberapa kali kami kedatangan tamu yg menagih hutang. Sementara ayah tak bisa bekerja, ibu sibuk dg pekerjaan rumah dan mengurus 2 adikku dan aku…mulai berfikir untuk tidak meneruskan sekolah dan nyari kerja, entah kerja apa yg penting halal dan bisa membantu keluarga. Aku mengungkapkan keinginanku untuk bekerja pada ibu, ibu bilang entahlah terserah kamu, kamu kan udah gede. Akhirnya aku dapat kerja jaga butik punya orang cina, waktu itu tahun 1998 gajiku jaga butik 7 jam kerja, dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore, RP.6000/hari. Dari gajiku ini tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan kami apalagi ayah sakit, kami tidak mampu bawa ayah berobat ke dokter, ibu hanya bikin jamu buat ayah setiap hari dan kami makan ala kadarnya. Sedih sangat sedih, ayah sakit, aku putus sekolah dan paling menyedihkan adalah melihat kedua adikku terancam putus sekolah. Selang 8 bulan ayah mulai membaik dan bisa kerja lagi namun aku tetap tidak meneruskan sekolahku krn aku pikir dg keadaan ayah yg masih lemah tidak mungkin ayah bisa kerja seharian dari pasar ke pasar, aku tak mau ayah sakit lagi. Jadi dg aku juga kerja di butik paling nggak aku bisa membantu ayah untuk membiayai adik2 sekolah walau belum cukup untuk bayar hutang. Hampir setiap hari ada tamu datang untuk menagih hutang sejak ayah kembali bekerja, namun hasil kerja ayah plus gajiku jaga butik sungguh hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan bayar sekolah adik-adik.

   Selang beberapa tahun berlalu sejak ayah sakit-sakitan dan kami di lilit hutang, pada waktu itu tahun 2000, aku mendapat kabar bahwa ada lowongan kerja jadi TKW ke singapura. Aku langsung berfikir bagaimana kalau aku mendaftarkan diri jd TKW ke singapura…(dlm pikiranku yg penting bukan ke Saudi arabia) gak tau deh pokoknya denger-denger cerita para tkw di saudi menyeramkan, tapi singapura…hmmm aku jadi berhayal seperti apa singapura yg mayoritas mereka berbahasa inggris dan mandarin. Aku berhayal dan berhayal…hmm dg bekerja ke singapura aku pasti bisa bayar hutang keluargaku selama ini, plus aku bisa belajar bahasa inggris dan siapa tau mandarin juga dari percakapan sehari-hari dg majikan gitu?, duh indah nian angan-angan ini. Sepulangnya dari butik, aku bantu-bantu ibu nyiapin makan malam. Ba’da magrib aku pijitin ayah dan aku pelan-pelan menyampaikan keinginanku untuk bekerja jadi TKW di Singapura. ” yah, aku dengar kabar ada lowongan kerja di singapura, ya jadi pembantu rumah tangga atau babysitter gtu, gajinya lumayan loh yah Rp.1,2 juta kan enak yah ntar aku bisa bayarin utang trus sekolahin adik-adik sampe mereka kuliah trus ayah gak usah kerja dah gajiku nanti pasti cukup yah” cerocosku penuh semangat. ” Kamu serius? 100% yakin dan siap dg segala resikonya ndok? ” (ndok=panggilan anak perempuan dlm bhs jawa) . “emms, aku serius banget yah ! 200% malah ” kataku. ” seumpama nanti pas kamu udah di singapura trus ayah meninggal atau apalah hal-hal yg menyedihkan terjadi apa kamu bisa kuat ndok?, kerja merantau itu berat ndok apalagi pertama kalinya tak semudah yg kau bayangkan ndok.”  dengan cepat aku menjawab ” aku siap yah dg apapun resikonya yg penting aku bisa bantuin ayah, ibu dan adik-adik.”

   Bulan juli tahun 2000, aku datang ke satu PJTKI di Tangerang di antar ayah dan ibu. setelah interview dan pengurusan dokumen-dokumen aku diterima di PJTKI tersebut, Bpk.alam yg menerimaku di PJTKI itu selaku manager sekaligus berperan sebagai sponsorku. Bpk.alam beliau sangat baik, ramah, murah senyum, pokoknya segala ketakutan yg tadinya ada di benakku sirna setelah bertemu dg Bpk.alam. Singkat kata saatnya berpisah dg ayah dan ibu, krn aku harus tinggal di asrama PJTKI untuk mendapatkan training sebelum berangkat ke singapura. Adapun trainingnya bermacam-macam, mulai dari belajar bahasa inggris, memasak, mengepel,menggunakan peralatan elektronik seperti vacuum cleaner, coffee maker, microwave, setrika listrik, oven listrik dan mesin cuci dan juga cara merawat bayi dan anak-anak, pokoknya trainingnya komplit.

   Satu bulan, dua bulan belum juga dapat job order, selama di asrama aku rajin mengikuti training, aku selalu patuh peraturan asrama, aku berteman baik dg para calon tkw lainnya. Tiap sepertiga malam aku selalu bangun untuk menunaikan shalat malam, aku berdoa memohon kesehatan bagi kedua orang tuaku, aku memohon kebaikan untuk dua adikku, aku memohon agar segera dapat majikan, aku tak peduli majikanku beragama apa aja yg penting mereka baik padaku, yg penting mereka sabar padaku segede apapun rumah mereka aku mau bekerja keras, Yah itu lantunan doaku tiap malam. Bpk.alam sangat baik dan perhatian, setiap hari minggu beliau memanggilku ke kantornya, aku di berikan makanan, jajanan dan uang saku.

    Awal desember tahun 2000, aku mendapatkan job order sebagai pembantu rumah tangga di Bungalow yg cukup besar, rumah bungalow tingkat 3 dan 1 ruang basement dg kebun yg cukup luas, dg 3 anggota keluarga papa, mama dan 1 anak laki-laki umur 16th. Akhirnya setelah melalui proses yg cukup panjang tibalah saatnya aku terbang ke Singapura. 21 desember 2000, tibalah aku di negeri singa dan pertama kalinya aku meninggalkan negeri tercintaku tanah air Indonesia.

bersambung…

Advertisements

7 thoughts on “TKW jadi bini BULE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s